AKM dan Survei Karakter: Wajah Baru Evaluasi Pendidikan di Indonesia

Sistem pendidikan di Indonesia terus berinovasi, bergerak dari paradigma lama yang berfokus pada ujian nasional sebagai penentu kelulusan. Kini, dengan hadirnya Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter, kita melihat Wajah Baru Evaluasi pendidikan yang lebih holistik dan berorientasi pada peningkatan kualitas. Ini adalah langkah progresif untuk mengukur tidak hanya capaian akademik siswa, tetapi juga karakter dan lingkungan belajar yang mendukungnya.

AKM, sebagai bagian dari Asesmen Nasional (AN), mengukur kompetensi mendasar siswa yang diperlukan untuk belajar sepanjang hayat, yaitu literasi membaca dan numerasi. Literasi membaca bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks. Sementara numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah. Kedua kompetensi ini adalah fondasi penting bagi siswa untuk dapat beradaptasi di berbagai mata pelajaran dan kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan AKM tidak dilakukan setiap tahun untuk semua siswa, melainkan secara sampel untuk siswa kelas V, VIII, dan XI (atau kelas X/XI di Kurikulum Merdeka) pada periode tertentu, misalnya pada bulan Oktober 2024 untuk beberapa sampel sekolah di Indonesia. Ini memungkinkan pemerintah mendapatkan gambaran umum tentang kemampuan esensial siswa di jenjang tersebut.

Selain AKM, Wajah Baru Evaluasi juga mencakup Survei Karakter. Survei ini dirancang untuk mengukur hasil belajar non-kognitif siswa, seperti nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila (beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif). Aspek karakter ini sangat penting karena pendidikan modern tidak hanya bertujuan mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga berintegritas dan siap menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Data dari Survei Karakter memberikan informasi berharga bagi sekolah untuk mengembangkan program penguatan karakter yang lebih efektif.

Komponen ketiga dari AN adalah Survei Lingkungan Belajar, yang menggali informasi mengenai kualitas proses pembelajaran dan iklim di sekolah. Ini mencakup aspek seperti dukungan guru, fasilitas, dan keamanan. Informasi dari ketiga komponen ini (AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar) kemudian digunakan oleh pemerintah dan sekolah untuk melakukan refleksi dan perencanaan perbaikan mutu pembelajaran.

Dengan demikian, Wajah Baru Evaluasi melalui AKM dan Survei Karakter ini menandai pergeseran fokus dari sekadar hasil ujian menjadi pemahaman yang lebih mendalam tentang kompetensi esensial, karakter siswa, dan lingkungan belajar. Ini adalah langkah transformatif yang diharapkan dapat mendorong perbaikan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia secara berkelanjutan, mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga berkarakter kuat.