Memasuki dunia sekolah menengah, banyak siswa yang merasa tertarik untuk terjun ke dalam berbagai kesibukan ekstrakurikuler, terutama yang berkaitan dengan drama OSIS yang sering kali menjadi pusat perhatian. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sejatinya dibentuk sebagai wadah aspirasi dan pembelajaran kepemimpinan bagi seluruh murid. Namun, di balik seragam kebanggaan dan acara pensi yang megah, sering kali tersimpan realitas yang cukup pelik mengenai konflik internal, politik praktis tingkat sekolah, hingga perebutan pengaruh yang melelahkan secara mental bagi para anggotanya.
Salah satu pemicu utama munculnya fenomena negatif ini adalah pergeseran motivasi dari pengabdian menjadi sekadar mencari eksistensi semata. Banyak pengurus yang terjebak dalam drama OSIS karena merasa memiliki kekuasaan lebih dibandingkan siswa reguler lainnya. Hal ini sering kali memicu senioritas yang tidak sehat, di mana instruksi yang diberikan bukan lagi bersifat edukatif, melainkan intimidatif. Jika seorang siswa bergabung hanya untuk mendapatkan status sosial atau sekadar “pansos” di media sosial, maka esensi dari organisasi tersebut akan hilang dan berubah menjadi lingkungan yang sangat kompetitif secara toksik.
Konflik antar pengurus juga sering kali tidak terhindarkan, terutama saat mendekati acara-acara besar sekolah yang membutuhkan koordinasi intens. Di sinilah drama OSIS biasanya mencapai puncaknya, mulai dari perbedaan pendapat yang meruncing hingga aksi saling menjatuhkan di belakang layar. Tekanan untuk terlihat sempurna di mata guru dan teman-teman terkadang membuat para pengurus melupakan kesehatan mental mereka sendiri. Beban kerja yang tidak sebanding dengan apresiasi sering kali membuat siswa merasa jenuh (burnout), yang berujung pada penurunan prestasi akademik karena waktu belajar yang tersita habis untuk urusan organisasi.
Namun, tidak semua organisasi sekolah harus berakhir dengan cerita pahit jika para anggotanya memiliki kedewasaan emosional yang baik. Untuk menghindari drama OSIS yang merusak, diperlukan transparansi dan komunikasi yang sehat sejak awal masa jabatan. Pemimpin organisasi harus mampu merangkul semua pihak tanpa ada kubu-kubuan yang memecah belah. Fokuslah kembali pada visi awal, yaitu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan sekolah dan membantu teman-teman sesama siswa. Dengan begitu, setiap kegiatan yang dijalankan akan terasa lebih bermakna dan tidak sekadar menjadi ajang pamer kekuasaan di lingkungan sekolah.
