Sistem remedial dan pengayaan telah lama menjadi praktik standar dalam dunia pendidikan Indonesia. Tujuannya adalah memastikan semua siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) dan memberikan tantangan bagi mereka yang unggul. Namun, kini saatnya Menggugat Tradisi ini. Apakah sistem yang diterapkan saat ini benar-benar efektif dalam meningkatkan kualitas belajar siswa, ataukah justru menimbulkan stigma dan tekanan yang kontraproduktif dalam lingkungan akademik?
Bagi siswa yang harus menjalani remedial, proses ini seringkali menciptakan label kegagalan, merusak kepercayaan diri dan motivasi belajar. Mereka dipaksa mengulang materi dengan metode yang sama, padahal inti masalahnya mungkin terletak pada cara penyampaian yang tidak sesuai dengan gaya belajar mereka. Oleh karena itu, Menggugat Tradisi remedial menuntut kita mencari pendekatan yang lebih personal dan berbasis diagnostik.
Sementara itu, program pengayaan yang bertujuan melayani siswa berprestasi juga menghadapi kritik. Jika program pengayaan hanya berupa penambahan tugas tanpa kedalaman materi atau tantangan berpikir tingkat tinggi, hal itu dapat terasa sebagai beban. Kualitas pengayaan haruslah berfokus pada eksplorasi minat dan pengembangan keterampilan berpikir kritis, bukan sekadar kuantitas soal tambahan.
Menggugat Tradisi ini harus diawali dengan reformasi penilaian. Sekolah harus mulai beralih dari penilaian sumatif (nilai akhir) yang kaku, menuju penilaian formatif yang berkelanjutan. Penilaian formatif memungkinkan guru mendeteksi kelemahan siswa sejak dini dan memberikan intervensi segera saat proses pembelajaran berlangsung, meminimalkan kebutuhan remedial besar-besaran di akhir periode.
Salah satu solusi yang dapat menggantikan remedial adalah Mastery Learning atau Pembelajaran Tuntas. Konsep ini memastikan siswa benar-benar menguasai satu konsep sebelum pindah ke konsep berikutnya, dengan dukungan intensif. Pendekatan ini menghilangkan “hukuman” berupa remedial dan menjamin bahwa fondasi pengetahuan siswa sudah kokoh.
Untuk pengayaan, sekolah harus menyediakan program mentorship atau proyek independen yang memungkinkan siswa unggul bekerja pada topik di luar kurikulum. Misalnya, proyek riset ilmiah sederhana atau coding dasar yang dipandu oleh mentor dari luar sekolah dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan aplikatif di masa depan.
Penerapan Mastery Learning dan pengayaan berbasis proyek membutuhkan pelatihan guru yang memadai. Guru harus dibekali keterampilan diagnostik untuk mengidentifikasi akar masalah kesulitan belajar, serta kemampuan untuk merancang tugas pengayaan yang menantang kreativitas dan nalar kritis siswa.
