Akses Pendidikan Pekerja: Mengapa Indonesia Masih Hadapi Isu Tenaga Kerja Berijazah Rendah?

Indonesia terus berjuang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya demi mencapai status negara maju. Namun, tantangan besar yang masih dihadapi adalah isu akses pendidikan pekerja yang belum merata, menyebabkan mayoritas angkatan kerja masih didominasi oleh lulusan dengan ijazah rendah, khususnya Sekolah Dasar (SD). Fenomena ini menjadi penghambat serius bagi peningkatan produktivitas dan daya saing nasional. Memahami mengapa akses pendidikan pekerja masih menjadi masalah krusial adalah langkah awal untuk merumuskan solusi yang efektif.

Menurut laporan terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan pada awal 2025, sekitar 30% dari total angkatan kerja di Indonesia belum menyelesaikan pendidikan menengah, dengan sebagian besar hanya berijazah SD. Angka ini mencerminkan kompleksitas masalah akses pendidikan pekerja yang dipengaruhi oleh berbagai faktor:

  1. Keterbatasan Ekonomi Keluarga: Banyak keluarga di Indonesia, terutama di daerah pedesaan atau kantong-kantong kemiskinan, menghadapi kendala finansial. Biaya pendidikan, meskipun biaya sekolah dasar gratis, namun biaya tidak langsung seperti transportasi, seragam, dan buku seringkali menjadi beban. Hal ini mendorong anak-anak untuk segera bekerja setelah lulus SD atau bahkan putus sekolah, demi membantu ekonomi keluarga.
  2. Geografis dan Infrastruktur Pendidikan yang Belum Merata: Meskipun pemerintah telah membangun banyak sekolah, masih ada wilayah terpencil yang sulit dijangkau, dengan fasilitas pendidikan yang minim atau tidak memadai. Jarak sekolah yang jauh dan akses transportasi yang sulit seringkali menjadi penghalang bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
  3. Rendahnya Kesadaran Akan Pentingnya Pendidikan Lanjutan: Di beberapa komunitas, terutama di sektor informal atau pertanian, masih ada pandangan bahwa pendidikan tinggi tidak terlalu relevan dengan jenis pekerjaan yang akan ditekuni. Ini mengurangi motivasi anak-anak dan orang tua untuk berinvestasi dalam pendidikan yang lebih panjang.
  4. Kurikulum yang Kurang Relevan dengan Kebutuhan Pasar Kerja: Meskipun sudah ada upaya perbaikan, beberapa kurikulum pendidikan formal dianggap belum sepenuhnya membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri modern. Ini bisa membuat siswa merasa pendidikan lanjutan kurang praktis atau tidak memberikan jaminan pekerjaan.
  5. Minimnya Program Pelatihan Berkelanjutan: Bagi mereka yang sudah menjadi bagian dari angkatan kerja dengan pendidikan rendah, akses pendidikan pekerja untuk peningkatan keterampilan melalui program reskilling atau upskilling masih terbatas atau kurang informasinya.

Dampak dari rendahnya akses pendidikan pekerja ini sangat terasa pada produktivitas nasional dan daya saing. Pekerja dengan pendidikan rendah cenderung terjebak dalam pekerjaan informal dengan upah minim dan kesempatan pengembangan karier yang terbatas. Untuk mengatasi ini, pemerintah perlu terus memperluas program pendidikan vokasi, menyediakan beasiswa yang lebih banyak, meningkatkan infrastruktur pendidikan di daerah terpencil, dan menyelenggarakan program pelatihan keterampilan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Hanya dengan demikian, Indonesia dapat membangun angkatan kerja yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan global.