Di tengah gempuran Media Sosial Sekolah dan tuntutan akademik yang tinggi, muncul fenomena yang dikenal sebagai Toxic Productivity. Istilah ini merujuk pada dorongan kompulsif untuk selalu merasa harus produktif, bahkan hingga mengorbankan waktu istirahat dan Kesehatan Mental Siswa. Ironisnya, lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh kini seringkali menjadi panggung bagi Perbandingan Sosial yang tidak sehat, terutama melalui unggahan prestasi, aktivitas ekstrakurikuler yang padat, dan jam belajar yang ekstensif yang dipamerkan di dunia maya.
Toxic Productivity ini ditandai dengan perasaan bersalah saat beristirahat, dan terus-menerus merasa bahwa usaha yang sudah dilakukan belum cukup. Ketika siswa melihat unggahan teman sebayanya yang berhasil memenangkan olimpiade, menyelesaikan proyek besar, atau bahkan hanya belajar hingga larut malam—semua itu terbingkai indah di Media Sosial Sekolah—muncul tekanan internal untuk menyamai atau bahkan melebihi pencapaian tersebut, terlepas dari batas kemampuan dan kebutuhan diri sendiri. Dr. Ratih Kumala, seorang psikolog klinis dari RSUD Pendidikan Jakarta, dalam sesi webinar pada hari Sabtu, 15 Juni 2024, menyoroti bahwa perfectionism yang didorong oleh digital peer pressure ini merupakan pemicu utama peningkatan kasus kecemasan dan burnout di kalangan remaja usia sekolah.
Dampak dari Perbandingan Sosial yang ekstrem ini terhadap Kesehatan Mental Siswa sangat serius. Mereka mungkin mulai mengaitkan harga diri dengan capaian akademik semata, kehilangan keseimbangan antara hidup pribadi dan sekolah, dan akhirnya rentan terhadap gangguan tidur serta stres kronis. Sekolah, sebagai institusi, memiliki peran penting untuk menanggulangi dampak negatif Toxic Productivity ini. Sekolah harus mulai mempromosikan well-being dan pemahaman bahwa produktivitas sejati adalah produktivitas yang berkelanjutan, bukan yang menguras energi.
Beberapa inisiatif telah mulai diterapkan. Misalnya, OSIS SMA Pelita Bangsa di Surabaya mengeluarkan kebijakan informal untuk membatasi unggahan yang bersifat pameran berlebihan di akun Media Sosial Sekolah mereka, dan sebaliknya fokus pada konten yang mempromosikan istirahat aktif dan self-care. Selain itu, konselor sekolah secara rutin mengadakan sesi group counselling untuk membahas strategi pengelolaan waktu dan mengatasi perasaan cemas yang dipicu oleh Perbandingan Sosial. Memahami batasan diri dan merayakan proses, bukan hanya hasil akhir, adalah kunci utama. Kesehatan Mental Siswa harus menjadi prioritas, dan mengakui bahwa setiap individu memiliki jalurnya sendiri adalah langkah pertama untuk melepaskan diri dari jeratan Toxic Productivity.
